(Part 2) Peka atau tidak peduli: Standar manusia berbeda
Standar manusia yang berbeda.
Mengapa orang-orang menjadi memiliki hobi membandingkan orang lain dengan orang lain, membandingkan dirinya dengan orang lain?
Mengapa orang merasa paling benar?
Mengapa orang merasa hidupnya paling sengsara daripada orang lain?
Mengapa orang merasa hidupnya paling beruntung daripada ornag lain?
Semakin kemari semua mengalami pergeseran. Perubahan secara perlahan namun terasa.
Orang membandingkan kehidupannya dengan orang lain karena ia kurang bersyukur, merasa kurang puas terhadap apa yang ia miliki.
Orang merasa paling benar, dan ucapannya harus didengarkan karena ia merasa yang paling berpengalaman, karena sudah banyak melalui asam manis kehidupan, sehingga mengintimidasi orang lain supaya mendengarkan ucapannya, mengikuti apa yang disarankannya.
Kemudian, adapula orang yang membandingkan antar sesama. "ih masa gitu amat sih?". Lalu berlanjut dengan kejulidan dan kenyinyiran yang menjadi bahasa tren jaman now. Menilai bahwa A lebih baik dari B, C, dan seterusnya. Kemudian menjadi bahan pergunjingan dan ghibah sebagai hiburan sepanjang siang dan malam.
Kenapa manusia seperti ini ada. Tentu ada dan sering banyak dijumpai. Jangan terlalu jauh mencari. Barangkali kita sendiri termasuk orang-orang yang ada di atas. Secara sadar atau tidak. Secara rela atau tidak untuk memgakui bahwa kita pernah berada sebagai pelaku diatas.
Setiap orang memang memiliki standar hidupnya masing-masing. Tak bisa kita bandingkan, tak bisa kita samakan. Layaknya sepatu, setiap manusia memiliki preferensi masing-masing. Bisasaja ukuran sama, tetapi model berbeda. model sama, ukuran berbeda. ukuran sama, kenyamanan berbeda.
Jadi jangan menilai orang lain lebih rendah jika tidak setara seperti standar yang kita miliki. Jangan merendahkan diri dan merasa paling buruk jika orang lain memiliki standar jauh lebih baik diatas kita.
Dan tak seharusnya, kita selalu menyamakan, seharusnya begini, seperti ini, seharusnya begitu, bukan begini.
Biarkan orang-orang menjalani hidupnya. Kita pemeran utama hidup yang kita miliki, kita sendiri pengendali hidup kita. sama halnya dengan orang lain. Kita hanya figuran pada hidup orang lain, jadi tak seharusnya kita mengambil alih jalan dan tujuan yang ia inginkan.
Lalu jangan pula mengatakan, "ah iya dia mah enak", atau "iya kamu mah enak".
Helo... kita tidak pernah tau bagaimana orang lain berusaha. Seperti gunung es yang hanya nampak puncaknya saja. Kita tak pernah tahu apa yang tersembunyi dibawahnya. Jadi, tak perlu kita berkomentar terhadap hidup orang lain.
Seperti banyak kata mutiara, tak perlu mencari kesalahan ornag lain, tak perlu mengomentari hidup orang lain, lebih baik fokus saja pada kehidupan kita sendiri. Meperbaiki yang perlu diperbaiki.
Artikel sebelumnya: Peka Atau Tidak Peduli (Part 1)
Mengapa orang-orang menjadi memiliki hobi membandingkan orang lain dengan orang lain, membandingkan dirinya dengan orang lain?
Mengapa orang merasa paling benar?
Mengapa orang merasa hidupnya paling sengsara daripada orang lain?
Mengapa orang merasa hidupnya paling beruntung daripada ornag lain?
Semakin kemari semua mengalami pergeseran. Perubahan secara perlahan namun terasa.
Orang membandingkan kehidupannya dengan orang lain karena ia kurang bersyukur, merasa kurang puas terhadap apa yang ia miliki.
Orang merasa paling benar, dan ucapannya harus didengarkan karena ia merasa yang paling berpengalaman, karena sudah banyak melalui asam manis kehidupan, sehingga mengintimidasi orang lain supaya mendengarkan ucapannya, mengikuti apa yang disarankannya.
Kemudian, adapula orang yang membandingkan antar sesama. "ih masa gitu amat sih?". Lalu berlanjut dengan kejulidan dan kenyinyiran yang menjadi bahasa tren jaman now. Menilai bahwa A lebih baik dari B, C, dan seterusnya. Kemudian menjadi bahan pergunjingan dan ghibah sebagai hiburan sepanjang siang dan malam.
Kenapa manusia seperti ini ada. Tentu ada dan sering banyak dijumpai. Jangan terlalu jauh mencari. Barangkali kita sendiri termasuk orang-orang yang ada di atas. Secara sadar atau tidak. Secara rela atau tidak untuk memgakui bahwa kita pernah berada sebagai pelaku diatas.
Setiap orang memang memiliki standar hidupnya masing-masing. Tak bisa kita bandingkan, tak bisa kita samakan. Layaknya sepatu, setiap manusia memiliki preferensi masing-masing. Bisasaja ukuran sama, tetapi model berbeda. model sama, ukuran berbeda. ukuran sama, kenyamanan berbeda.
Jadi jangan menilai orang lain lebih rendah jika tidak setara seperti standar yang kita miliki. Jangan merendahkan diri dan merasa paling buruk jika orang lain memiliki standar jauh lebih baik diatas kita.
Dan tak seharusnya, kita selalu menyamakan, seharusnya begini, seperti ini, seharusnya begitu, bukan begini.
Biarkan orang-orang menjalani hidupnya. Kita pemeran utama hidup yang kita miliki, kita sendiri pengendali hidup kita. sama halnya dengan orang lain. Kita hanya figuran pada hidup orang lain, jadi tak seharusnya kita mengambil alih jalan dan tujuan yang ia inginkan.
Lalu jangan pula mengatakan, "ah iya dia mah enak", atau "iya kamu mah enak".
Helo... kita tidak pernah tau bagaimana orang lain berusaha. Seperti gunung es yang hanya nampak puncaknya saja. Kita tak pernah tahu apa yang tersembunyi dibawahnya. Jadi, tak perlu kita berkomentar terhadap hidup orang lain.
Seperti banyak kata mutiara, tak perlu mencari kesalahan ornag lain, tak perlu mengomentari hidup orang lain, lebih baik fokus saja pada kehidupan kita sendiri. Meperbaiki yang perlu diperbaiki.
Artikel sebelumnya: Peka Atau Tidak Peduli (Part 1)
Komentar
Posting Komentar